Paolo Maldini dan Satu Kartu Merah
Paolo Maldini lahir di Milan Italia. Maldini merupakan
salah satu pemain belakang terbaik di dunia yang sepanjang kariernya merumput
bersama tim raksasa Italia, AC Milan.
Maldini terlahir di Italia, negara yang terkenal sebagai
penghasil banyak pemain belakang handal. Namun, dari sekian banyak yang ada,
hanya dua yang menonjol. Yang pertama adalah Giacinto Facchetti, pemain Inter
Milan yang berjaya di era 60an, sementara yang kedua adalah dia sendiri.
Maldini memulai kariernya pada usia sembilan tahun dengan
bergabung bersama tim muda Rossoneri.
Debutnya di Serie-A adalah saat AC Milan melawan Udinese pada 20 Januari 1985.
Ketika itu, Maldini baru berusia 16 tahun. Musim demi musim berganti hingga
Maldini muda menjelma menjadi batu penjuru bagi Rossoneri berkat penguasaan
teknik, taktik, dan fisik yang luar biasa.
Bersama Mauro Tassoti, Franco Baresi, dan Alessandro
Costacurta, Maldini membentuk deretan pertahanan terbaik yang pernah dipunyai
AC Milan. Semua itu ditunjang oleh skill Maldini yang luar biasa. Baik kaki
kanan maupun kaki kirinya, seakan menjadi benteng yang sulit sekali ditembus
para penyerang lawan.
Bersama Milan, pemain bernomor punggung tiga itu meraih
lima gelar Liga Champions, tujuh gelar Scudetto Serie
A, serta sederet gelar lainnya, baik di tanah Italia maupun di benua biru
Eropa. Sementara itu, bersama timnas Italia, Maldini sudah dua kali nyaris
membawa pulang gelar bergengsi. Yang pertama adalah saat timnya harus kalah
dari Brasil di final Piala Dunia 1994 dan ketika Italia dipecundangi Prancis di
EURO 2000.
Sebagai seorang bek, Maldini meneruskan tradisi Catenaccio yang dipertahankan sang ayah, Cesare
Maldini, legenda AC Milan di tahun 1954 hingga 1966. Maldini dikagumi akan
sportivitasnya. Dalam menjaga barisan pertahanan, pemain berjuluk Il Capitano itu mengandalkan intelegensi,
dibanding kekuatan fisik dan agresivitas.
Tak heran, dari 1.000 lebih laga yang ia mainkan bersama
AC Milan dan timnas Italia, Maldini hanya sekali diganjar kartu merah, itupun
dalam laga persahabatan. Tidak sekedar dihargai atas pengalaman dan trofi yang
pernah ia raih, Maldini juga menjadi contoh bagi rekan-rekannya. Setia kawan
dan tanpa pamrih, sikap seorang gentleman yang
menjunjung tinggi sportivitas.gantung sepatu pada 31 Mei 2009 usai laga
tandang kontra Fiorentina yang dimenangi Rossoneri 2-0.


NICE 3
BalasHapus