"Tandukan Maut" Zinedine Zidane
Pada 9 Juli 2006, tim nasional Italia menjadi
juara Piala Dunia setelah mengalahkan Prancis dalam drama adu penalti, 5-3.
Keduanya bermain imbang 1-1 setelah 120 menit. Gol penalti cepat Zinedine
Zidane pada menit ke-7 membawa Les Blues unggul lebih dulu. Namun, sekitar 12
menit kemudian, bek gaek Italia, Marco Materazzi menyamakan kedudukan.
Hanya saja pertandingan ini juga dikenang dengan insiden yang
melibatkan kedua pencetak gol tersebut. Gol dari keduanya seolah sudah
ditakdirkan mereka akan menjadi sorotan untuk dikenang. Sayangnya, mereka
dikenang karena insiden yang tak terpuji.
Zidane diusir wasit setelah menanduk Materazzi di tengah
pertandingan babak perpanjangan waktu karena diduga ia diprovokasi dengan
kata-kata tak pantas oleh pemain Italia tersebut. Itu menjadi penutup kariernya
yang tak ingin dikenang sepanjang hidupnya.
Drama antara keduanya dimulai pada babak kedua perpanjangan
waktu, ketika Zidane yang tengah berjalan bersama Materazzi, berhenti di
depannya dan mendadak menanduk dadanya.
Sang pengadil lapangan tidak melihat insiden tersebut dan ia
hanya mendapat informasi dari asisten keempatnya. Setelah itu, Horacio Elizondo
tanpa ragu memberikan kartu merah. Itu menjadi kartu merah kelima sepanjang
kariernya dan bersama Rigobert Song, ia menjadi pemain yang diusir dalam dua
turnamen Piala Dunia berbeda (sebelumnya di Piala Dunia 1998).
![]() |
| Zidane diberi kartu merah setelah melakukan aksinya. |
Dua tahun kemudian, Zidane mengungkap dirinya diprovokasi dengan
kata-kata tidak pantas yang diduga menyinggung ibunya. Ia juga mengaku sempat
dihina dengan sebutan ‘anak pelacur teroris’. Namun, ia juga menyesali karena
telah bereaksi berlebihan dengan kata-kata tersebut meski ia takkan menyesali
tandukannya terhadap Materazzi.
“Saya bereaksi dengan buruk dan ingin meminta maaf karena banyak
anak-anak yang menyaksikan pertandingan itu. Meski begitu, saya takkan
menyesali tandukkan saya kepada Materazzi karena jika saya menyesalinya, maka
saya akan membenarkan yang ia katakan,”
“Sebenarnya, tidak ada masalah antara saya dengan dirinya
sebelum pertandingan itu. Semua bermula ketika ia memegang baju saya dan saya
minta ia hentikan hal itu. Lalu saya katakan jika dia ingin baju saya, saya
akan berikan setelah pertandingan. Lalu, yang terjadi kemudian adalah dia
menghina saya dengan kata-kata tidak pantas yang menyinggung ibu dan adik saya.
Saya coba abaikan tapi kemudian saya menghampirinya dan semua [tandukan] itu
terjadi begitu cepat,” ungkap Zidane dilansir BBC Sport.
Materazzi sempat menolak tuduhan tersebut meski ia mengakui
sempat berbicara kata-kata kasar kepadanya. Ia juga menegaskan tak pernah
menyebut Zidane dengan sebutan teroris dan menghina ibunya seperti yang
diberitakan.
“Itu merupakan hinaan yang sudah terlanjur menyebar. Saya tak
pernah memanggilnya teroris. Saya bukan orang yang tak berbudaya dan sama
sekali tak menyebutkan hal-hal berbau politik, ras, dan agama kepadanya. Saya
juga tak pernah menghina ibunya. Saya kehilangan ibu saya saat berusia 15 tahun
dan saya masih emosional jika membicarakan itu,” tegas Materazzi seperti
dikutip ESPN FC.
Lebih lanjut, menurut Materazzi, Zidane bersikap provokatif saat
ia memegang bajunya yang membuatnya mengeluarkan kata-kata seperti itu meski ia
juga menyesali telah menghina saudaranya.
🏉🏉🏈
“Saya hanya memegang bajunya lalu ia merespon, `Nanti saja
setelah pertandingan`. Bukankah itu sebuah provokasi? Memang betul saya
merespon dengan menyinggung saudara perempuannya dan itu hal yang buruk. Saya
juga tak tahu kalau dia punya saudara perempuan sebelumnya.”
Sekitar setahun setelah insiden itu, Materazzi mengungkap kata
sebenarnya yang dilontarkan ke Zidane, “Saya lebih suka pelacur itu adik Anda,”
ungkapnya dikutip dari Guardian.
Hingga kini, belum diketahui apakah keduanya sudah saling
memaafkan setelah pertandingan tersebut. Saat itu, Materazzi mengaku siap
memaafkan Zidane jika ia meminta maaf secara langsung.
“Jika dia belum meminta maaf, maka saya pun tak perlu meminta
maaf. Namun, bila perlu saya ingin meminta maaf kepada saudara perempuannya
meskipun sebelumnya saya tidak tahu dia punya saudara perempuan. Upaya damai
tanpa diketahui publik antar dua pria? Tentu saja bisa. Saya akan selalu
terbuka menerimanya di sini untuk berdamai jika mau,” tutur Materazzi.
****
Insiden antara Materazzi dan Zidane membuktikan bahwa provokasi
sekecil apapun bisa menimbulkan reaksi tak terduga. Provokasi dalam pertandingan
merupakan hal yang biasa untuk mengganggu konsentrasi lawan, namun yang mesti
diingat, kita tak bolehmenyinggung pribadi yang diprovokasi.


MAUT BANGEWTTTTTT
BalasHapusserem banget kak
BalasHapus