Roberto Baggio dan Kenangan Pahitnya



Roberto Baggio lahir pada 18 Februari 1967, lahir di Caldogno, Veneto, Italia.
Roberto Baggio bagi sebagian orang adalah seorang pesulap. Ia bisa dengan mudah mengirimkan umpan untuk lawan-lawannya, menggiring bola dengan gerakan tubuhnya yang lentur. Tak lupa, sebagai seorang pemain depan, ia juga memiliki akurasi tendangan yang akurat.

Namun, ada juga yang menganggap Roberto Baggio adalah pemain yang biasa saja. Tak memiliki kemampuan memukau bak Neymar atau bentuk fisik sempurna seperti Cristiano Ronaldo, yang dengan mudah membuat bola melayang hanya dengan menjejak kakinya di tanah. Juga karena ia akan diingat sebagai pemain Italia yang gagal mencetak penalti saat Piala Dunia 1994 yang dimainkan di Amerika Serikat.

Yang pasti, Roberto Baggio bukan hanya sekadar pemain biasa. Ia fantasista yang dicintai publik Italia.  Baggio dari pertama ia merintis karier bersama Vicenza, hingga memutuskan gantung sepatu saat bermain untuk Brescia.
Satu hal unik yang tak terlupakan tentang Roberto Baggio adalah.....

Ekspreksi Baggio sesaat melesatkan tendangan penalti.
17 Juli 1994 mungkin jadi salah satu hari yang tak bisa dilupakan oleh publik Italia. Hari itu di Stadion Rose Bowl, Amerika Serikat, Italia gagal menambahkan bintang keempat di emblem seragam tim nasional mereka. Italia kalah 2-3 dalam adu penalti melawan Brasil. Di tengah lapangan Romario, Bebeto, dan para pemain Brasil lainnya bersuka ria. Namun, tak jauh dari sana, seorang pemain bernomor 10 Italia tengah tertunduk lesu di kotak penalti.

Tendangannya baru saja melambung jauh di atas mistar. Bidikannya yang meleset sama dengan kepastian gagalnya Italia mengangkat trofi Piala Dunia untuk keempat kalinya. Dia Roberto Baggio.


Baggio adalah pemain terbaik dunia 1993 dan salah satu pemain yang ditunggu penampilannya di Piala Dunia 1994. Baggio sukses menjawab tantangan itu dengan baik.

Lima gol Baggio yang tercipta sejak fase knock-out menjadi tangga Italia menapak babak final. Sayang, cerita Baggio di Piala Dunia 1994 berakhir duka.
Baik bagi Baggio dan Italia.

Gagal memenangi Piala Dunia setelah kalah di babak final jelas merupakan kegagalan paling menyakitkan jika dibandingkan kalah di babak-babak sebelumnya. Langkah-langkah para pemain Azzuri yang tinggal berjarak setapak lagi dari trofi harus terhenti.

Baggio masih menunduk dan ia sadar bahwa saat itulah ia berlumur dosa. Ia yang memastikan kekalahan Italia di babak final. Gol-gol cemerlangnya di babak-babak sebelumnya seolah tak berarti banyak.

Baggio adalah si pembuat dosa. Mungkin begitu yang dipikir oleh orang-orang di luar Italia. Baggio melakukan kesalahan yang fatal dan tidak mungkin termaafkan.

Walaupun hal itu terjadi, Baggio tetap dicintai oleh warga Italia.


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Zlatan Ibrahimovic, Sang Dewa Sepakbola

History Of Pele